JOKER (2019)


Seperti yang kita tahu dari moto sang badut gila penghuni kota Gotham ”memasang wajah bahagia” adalah kesehariannya. Bahkan ia pun diberi julukan HAPPY oleh ibunya.  
Film ini mengupas tentang kehidupan Arthur Fleck jauh sebelum kata JOKER itu ada.  
Bermula dari kehampaan seorang pekerja badut sewaan yang tinggal di apartemen tua nan kumuh bersama ibunya, Arthur anak yang baik dan berbakti. Ia merawat ibunya yang sudah tua renta dan sakit-sakitan.  
Disisi lain Arthur anak yang berbakti ia pun optimis dalam menjalani hidup, dia bertekat menjadi komedian. Namun siapa sangka dipertunjukan pertamanya ia gagal karena penyakit yang dideritanya, tak sampai gagalnya pada panggung pertama ia pun dibuat kecewa pada rekaman stand up komedi dirinya yang diputar salah satu stasiun televisi nasional yang dibawakan Murray Franklin (sang idola yang selama ini ia tonton). Kecintaannya sebagai penggemar kini berubah menjadi pembenci, pada satu kesempatan Arthur diundang untuk mengisi acara talk show Murray franklin’ disinilah sosok joker tercetus.  
Okeh kita kembali pada kisah kelam kota Gotham dimana suasana pemerintahannya diporakporandakan oleh penduduk setempat dengan aksi demo dan kerusuhan dimana-mana. Seperti yang kita lihat pada awal film kota Gotham tervisualkan sebagai kota yang terbengkalai, sampah berserakan, wabah super rat, kriminal, kesenjangan sosial, hingga isu politik.  
Bernuansa 1981, latar belakang Gotham tersirat senja senja biadab. Tingkat kepedulian yang rendah didukung hubungan pemerintahan dan rakyat yang tidak harmonis, semua terlihat jelas. Si kaya dan si miskin terus berseteru hingga permainan Joker dimulai. Arthur yang bekerja sebagai badut kala itu mendapat tekanan yang amat berat sampai pada rekan kerjanya memberi pistol untuk dirinya membela diri, awalnya Art menolak tapi ia menghargai pemberian teman kerjanya. Pada suatu momen ketika Arthur naik kereta bawah tanah penyakit ngakaknya kambuh, disinilah situasi gelap yang gua tunggu. Gak pakai lama tiga pria yang awalnya menggoda seorang wanita itu mendekati Arthur karena tawanya yang absurd, salah satu dari meraka pun melucuti wig yang Arthur kenakan dan boom... satu pukulan lepas landas hingga Art terjatuh, tak perlu menunggu lama iapun membalas dengan timah panas, hahaha kapan lagi satu pukulan dibalas dengan darah “gue ketawa jahat”. Momen menegangkan tak hanya pada dalam kereta tapi ada satu pria yang berhasil lolos keluar namun tidak begitu lama Arthur berhasil melumpuhkan pengejaran itu dan tiga pria yang berstatus pegawai Thomas Wayne tersebut terbunuh dengan epik.  
Hal aneh dirasakan Arthur selepas ia membunuh, dimana doi merasa tenang, nyaman, dan tidak tertawa walau tanpa obat. Dia pun lari.. masuk ke toilet umum dan menari, disini bukti doi rileks jika ia membunuh seseorang yang jahat padanya. Situasi berganti pada kasus-kasus Arthur yang diselidiki seperti kegepnya dia bawa pistol kerumah sakit anak dan memesan peluru, meski Arthur sudah berkelit menjelaskan tapi bosnya gamau tahu, bahkan papan promosi yang diambil dan dirusak gerombolan pemuda kala itu harus ia ganti, tekanan memuncak ketika sang bos memberhentikan Arthur dari pekerjaannya.  
Tekanan demi tekanan dia rasakan hingga niat membalas dendam hadir dalam benaknya. Masuk pada situasi balas dendam pertamanya, dua teman bekerjanya dulu berkunjung ke apartemen Arthur dan aksi tumpah darahpun terjadi’ namun yang gua aminkan pada situasi ini si Arthur hanya membunuh temannya yang jahat, si pendek yang selalu bersikap manis ia biarkan pergi. Disini bisa disimpulkan kalo Joker tidak sembarangan membunuh.  
Diluar sana kekacauan semakin menjadi-jadi sampai pada skena Joker diselamatkan saat ia ditangkap dengan mobil polisi. Disini situasi favorit gua, dimana Joker menjadi pahlawan dan dipuja rakyat jelata penghuni Gotham 
Kayaknya gua gak bisa tulis lebih panjang lagi deh, poinnya sih ketika akhir film kita bakal dibuat bingung dan otomatis memecahkan teka-teki karena yang kita lihat sepanjang film hanya sekedar delusi sang Joker’ disisi lain mungkin itu flashback dari doi tapi ketika ditanya dengan dokter soal tertawanya dia menjawab “hal lucu yang tak akan kau mengerti”. Nah bisa jadi Joker mentertawakan kita sebagai penonton karena telah dibuat menjadi apa yang dia mau seperti naik turunnya emosi dan mengamini semua hal yang dia lakukan, namun apakah mungkin Joker diberi kuasa fourth wall layaknya Deadpool? (ini hanya terori gua yang bray).  
Penilaian: gak cukup rasanya nonton sekali untuk paham keseluruhan cerita dan pesan pada film garapan Todd Phillips kali ini, semua hal yang tersirat memiliki makna gelap dan seakan mengabu-abu kebenaran.  
Secara kualitas film ini sudah membuktikan lewat standing ovation selama 8 menit di Festival Venice. Untuk Joaquin Phoenix sebagai pemeran utama digadang-gadang bakal naik podium oscars “pernyataan tersebut sudah terucap dari mulut Todd saat ditanya visi film Joker 2019 ini”.  
Perbedaan cerita Joker kali ini yang gua rasain tertuju pada penyebab kehancuran kota Gotham dan lahirnya sosok Joker dari disparitas latar belakang masyarakat.  
Dari 1 sampai 10 gua rasa ini film layak dapat nilai sempuraYap 10/10 buat film yang sudah buat kita mengagumi orang gila. Sekian :) 

Komentar