PEREMPUAN TANAH JAHANAM


Film ini rilis serentak pada tanggal 17 Oktober 2019 dan gua baru nonton ditanggal 30, bukan tanpa alasan... gua sangat mengidolai Joko Anwar dan menaruh harapan satu peringkat diatas film Indonesia lain (terutama horor). Taruhannya ketika gua berani berekspek tentang kualitas film antara anyep atau gak berasa sama sekali, difilm ini terbukti bahwa The Best Director di negara +62 masih dipegang Joko Anwar atau gampangnya Joker..eh Jokan ðŸ˜Š  .  



Awalnya gua bakal ngira film ini gak bisa melampaui Pengabdi Setan tapi di opening aja udah keliatan ini film Jokan banget, santai.. halus.. clean abis njir’ dibuat menerka-nerka seolah ada sesuatu layaknya film horor pada umumnya tapi harusnya gua sadar kalo ini Jokan bukan yang lain, santai dan halusnya diawal sudah menghipnotis sekaligus notice.. Jadi setelah ini gua gak bisa kena trik lagi.  



Sampai pada skena yang gua tunggu dimana latar pedesaan Harjosari tempat Maya dan Dini mencari kebenaran tentang warisan peninggalan ortunya yang bahkan Maya pun sebagai anaknya belum pernah melihat ortunya (dia yatim piatu btw). Kejanggalan nampak dari ibu-ibu yang pertama kali menyapa dengan dingin Maya dan Dini, saat itu pula Dini sudah berfirasat dan meminta kepada Maya untuk kembali tapi Maya bersikeras untuk menetap di desa tersebut karena buat Maya bukan sekedar warisan yang ia tuju melainkan siapa dia sebenarnya. Kecurigaan semakin menjadi ketika 2 hari berturut ada bayi meninggal, merekapun lekas menelusuri pemakaman. Kengeriaan terpancar saat warga memergoki Maya dan Dini mengintip proses pemakaman bayi itu, baru kelar percakapan ringan yang hanya menanyakan tujuan Maya dan Dini ke desa Harjosari gua dibuat berkata kasar dengan berpisahnya Maya untuk mencari makan’ sedangkan Dini memilih mandi di rumah tua, nah skena di rumah tua gua demen nih dimana trik pengambilan gambar maju mundur bekerja dengan baik untuk menambah nuansa mengerikan bahkan bisa untuk sebuah penyampaian tanpa naskah tapi sisi tebak-tebakannya sudah tidak tebal seperti yang seharusnya’ udah b aja pas Dini mandi dan kamera maju perlahan dan gak ada apa-apa ehehe ðŸ˜€ .  



Untuk ending buat gua bagus tapi gak berkesan, dalam benak gua cara penyelesaian masalah pada film ini terlalu sederhana’ padahal rentetan masalah yang dialami para tokoh terbilang kompleks.  

Oke kita ulas balik dari sinopsis... Maya dan Dini dua sejoli yang mati-matian hidup di kota untuk kesuksesan, mulai dari jaga pos pintu tol yang ngebuatnya hampir mati beneran sampe dagang baju di pasar tradisional. Sebenarnya keheranan gua dimulai dari bapak-bapak pengendara mobil tua ketika Maya masih bekerja menjadi penjaga pos pintu tol tapi dibayar tunai ketika tau bahwa bapak tersebut mengincar mantra yang tertanam pada kulit Maya.  

Seperti yang terlansir pada wawancara Ewing dan Jokan memang set film ini dibuat beda dari cara garapnya, misal berkomunikasi berbisik dan semua itu berhasil menciptakan atmosfer mencekam. Dan karena dinotice kalo Jokan selalu menyelipkan ibu hamil dan pewarnaan merah/jingga pada setiap filmnya, hal ini jadi PR tambahan buat gua difilm selanjutnya supaya bisa mengiyakan pernyataan tersebut. Untuk hal yang katanya 3 anak kecil itu bukan pemeran sebenarnya alias hantu beneran gua harus nonton lagi dan konsentrasi untuk membuktikan soalnya pas gua nonton 3 bocah pertama dan 3 bocah kedua gak beda.  



Penilaian: buat gua ini film Indonesia 2019 yang berhak mendapat piala dari ajang manapun, hanya saja gua terlalu berlebihan dalam berharap dan ngebuat level kepuasan menurun, biasanya gua gak segan tepuk tangan setelah credits title muncul.. Bahkan berdiri. Padahal pengalaman nonton kali ini sudah pakai formula gak buru-buru (ngulur waktu buat nonton supaya bioskop sepi)... duh gua kok basa-basi gini ya` sung saja deh 95/100. 
Nyaris mendekati pengabdi setan yang gua kasih skor 98/100, ya namanya selera bang hehe :v  





Terimakasih dah sampe bawah..
Bye sobat sampah <3 berantakan="" nbsp="" salam="" span=""> 

Komentar